Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Nasihat Sayidina Ali. Show all posts
Showing posts with label Nasihat Sayidina Ali. Show all posts

Wednesday, December 12, 2018

Musibah adalah Ujian

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Wahai anak Adam… Janganlah engkau gembira dengan kekayaan. Dan jangan berputus asa dengan kefakiran. Jangan bersedih dengan musibah dan jangan bersuka cita dengan kesenangan. Sesungguhnya emas itu dilebur dengan api, sedangkan hamba yang saleh itu dilebur dosanya dengan musibah.

Sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan apa yang engkau inginkan, kecuali dengan meninggalkan kesenanganmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan apa yang engkau angankan, kecuali dengan bersabar atas apa yang tidak engkau sukai.

Dan curahkanlah seluruh usahamu untuk menjaga apa yang diwajibkan Allah padamu.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Risalatul Mustarsyidin, halaman 51.

Secara umum dalam ungkapannya ini Sayidina Ali bin Abu Thalib ra menasihati kita agar tak pernah lupa diri dalam menyikapi apa pun keadaan hidup yang sedang kita jalani. Jika Anda sedang menikmati limpahan kekayaan dari Allah, janganlah terlalu gembira dengannya. Jika Anda sedang diuji Allah dengan kefakiran sehingga Anda merasa sulit bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, janganlah berputus asa olehnya. Jika musibah sedang menimpa Anda, jangan masukkan diri Anda ke dalam larutan kesedihan yang berkepanjangan. Dan jika Allah sedang anugerahkan pada Anda kesenangan, jangan terlalu bersuka cita karenanya.

Sayidina Ali ra menyampaikan nasihat yang demikian itu tentu saja bukan tanpa alasan. Segala macam bentuk keadaan hidup yang disebutkan di atas sesungguhnya adalah ujian dari Allah Swt. Untuk sampai pada satu keadaan di mana seseorang menjadi mulia dalam pandangan Allah Ta’ala dibutuhkan adanya ujian. Tidak ada prestasi apa pun yang bisa digapai seseorang tanpa melewati suatu ujian. Tidak ada kemuliaan apa pun yang bisa diraih seorang hamba di sisi Allah Swt tanpa keberhasilan melampaui ujian yang dihadapkan padanya.

Lalu, jika ingin mulia di sisi Allah, siapa yang akan menguji kita dan apa bentuk ujiannya? Yang akan menguji kita adalah Allah Ta’ala sendiri dan bentuk ujiannya ada berbagai macam, salah satunya adalah musibah. Musibah selalu menggoreskan kesedihan, bahkan kegoncangan jiwa bagi orang yang menghadapinya. Namun, ketahuilah bahwa musibah merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah untuk mengetahui apakah seseorang itu layak dimuliakan-Nya atau tidak. Bagi hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya, musibah menjadi suatu ujian yang akan membuatnya naik pada derajat yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang telah ia gapai sebelumnya.

Sayidina Ali ra memberikan ilustrasi pada kita. Perhatikanlah emas itu. Bukankah emas bisa menjadi bernilai dan berharga setelah mengalami peleburan di dalam jilatan api. Panas dan segala bentuk kepedihan yang dialaminya telah membuatnya menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga. Demikianlah dengan seorang hamba Allah yang saleh. Musibah menjadi media baginya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa. Musibah membuatnya tersucikan dari noda-noda maksiat. Musibah mengantarkannya pada suatu tingkat yang di dalamnya Allah berikan padanya kemuliaan.

Sungguh tidak mudah bagi kita meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Jika Anda ingin memperoleh kemuliaan itu, ketahuilah, bahwa Anda harus meninggalkan kesenangan Anda dan menggantinya dengan amalan-amalan yang disenangi oleh Tuhan. Anda tidak mungkin mampu mengamalkan yang dikehendaki Allah jika Anda tetap mendahulukan segala macam kehendak Anda. Maka, dalam hal ini Anda membutuhkan kesabaran. Ajaklah diri Anda untuk tetap bersabar menjalankan kehendak Allah. Untuk sampai pada tahap tersebut, maka langkah awal yang harus kita lakukan adalah mencurahkan seluruh usaha kita untuk menetapi dan melaksanakan apa yang telah diwajibkan Allah atas kita.
Share:

Friday, December 7, 2018

Hiburlah Hatimu

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Hiburlah hatimu dan sentuhlah ia dengan sentuhan-sentuhan hikmah. Sesungguhnya ia bisa bosan sebagaimana tubuh bisa bosan. Dan jiwa itu senang kepada hawa nafsu, melakukan yang hina, condong kepada main-main, menyuruh kepada kejelekan, penuh kelemahan, minta santai, dan tidak menyukai amal. Namun, jika engkau membiarkannya, maka ia akan semakin rusak.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Aqdul Farid, 6/393.

Melalui nasihat ini, Sayidina Ali bin Abu Thalib ra menjelaskan kepada kita tentang keadaan hati dan kecenderungan jiwa serta cara menanganinya. Hati, menurut Sayidina Ali ra, bisa juga mengalami kebosanan. Dengan demikian yang bosan bukan hanya tubuh. Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa mencegah hadirnya kebosanan hati. Oleh beliau dikatakan bahwa sentuhan-sentuhan hikmah bisa membuat hati terhindar dari rasa bosan.

Hikmah sesungguhnya bisa kita petik dari mana pun dan apa pun. Bahkan dari peristiwa-peristiwa yang memilukan dan buruk sekali pun hikmah selalu disediakan Allah di dalamnya. Tergantung kita. Apakah kita mampu memetiknya atau tidak. Seandainya Anda merasa sulit untuk menemukan hikmah, saat ini ada banyak media, baik cetak maupun elektronik, yang di dalamnya uraian-uraian hikmah bisa kita dapatkan. Sisakanlah waktu dari satu hari yang kita lalui untuk membaca atau mendengarkan uraian-uraian hikmah tersebut. Percayalah, bahwa hal itu akan membuat hati Anda terhindar dari kebosanan.

Jangan biarkan hati Anda menjadi bosan. Bila itu terjadi, maka ia akan mudah dipengaruhi oleh nafsu. Sedangkan nafsu selalu mengarahkan kita kepada hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Nafsu senang mengajak manusia untuk melakukan sesuatu yang hina, condong kepada sikap main-main, menyuruh kepada keburukan, penuh kelemahan, minta santai dan tidak menyukai amal. Berhati-hatilah terhadapnya, karena kalau Anda membiarkannya maka ia akan semakin rusak. Waspadalah terhadapnya. Selalu sisakan waktu untuk bersentuhan dengan sentuhan-sentuhan hikmah.
Share:

Tuesday, December 4, 2018

Takwa adalah Benteng

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Aku berwasiat kepada para hamba Allah agar bertakwa kepada-Nya, karena takwa adalah benteng dari segala kesesatan dan jalan menuju keselamatan. Seakan-akan kalian adalah badan yang telah kehilangan ruhnya dan berada dalam kubur. Dan sekali-kali tidaklah bertambah satu hari dari waktu hidupnya di dunia, kecuali berkurang satu hari umurnya. Duniamu tidak lain hanyalah tempat berteduh, atau tempat musafir menambah bekal.

Dan aku peringatkan kalian dengan paggilan Yang Maha Kuasa dan Maha Pemaksa terhadap hamba-Nya. Hari di mana akan musnah segala yang masih tersisa. Rumah-rumah akan ditinggalkan oleh para penghuninya, sedangkan anak-anaknya akan menjadi yatim. Kemudian ia akan dimasukkan ke dalam lubang, pipinya berdebu, tanpa bantal dan tanpa alas.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Aqdul Farid, 4/65.

Takwa adalah benteng dari segala kesesatan dan jalan menuju keselamatan. Itulah inti nasihat dari Sayidina Ali bin Abu Thalib ra ini. Ketahuilah, tidak ada benteng yang lebih kokoh dari takwa yang dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan. Kesesatan selalu saja berusaha menjerumuskan setiap manusia. Ia datang dengan berbagai macam bentuk yang setiap saat bisa berubah-ubah. Berhati-hatilah terhadapnya.

Jika Anda ingin selamat dari ‘serangan’ kesesatan, yang harus Anda lakukan adalah senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Jika Anda benar-benar bertakwa kepada Allah, niscaya Anda akan selalu berjalan di atas petunjuk Tuhan, dan itu pasti akan memberikan keselamatan bagi Anda, di dunia dan di akhirat.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi manusia yang bertakwa?

Sayidina Ali ra memberikan jawabannya pada kita. Kata beliau, sadarilah bahwa kita akan segera berpindah dari dunia ini ke alam barzah. Sesungguhnya saat perpindahan itu sudah dekat. Setiap hari yang kita lalui pada hakikatnya semakin mendekatkan kita pada saat itu. Satu hari yang kita lalui di dunia ini telah mengurangi satu hari jatah kehidupan kita. Begitulah seterusnya hingga kematian datang menghampiri. Begitu singkatnya waktu kehidupan di dunia ini, maka isilah ia dengan berbuat kebaikan. Laksana seorang musafir yang sedang singgah di suatu tempat untuk menambah bekal perjalanannya. Bila tiba waktunya ia akan segera pergi dari tempat itu menuju tujuan yang sesungguhnya.

Hal lain yang harus kita sadari adalah bahwa Allah merupakan Dzat Yang Maha Memaksa. Jika Dia berkehendak maka kehendak-Nya itu pasti akan berlaku. Tidak ada seorang pun di antara para hamba ini yang kuasa untuk menolaknya. Pemaksaan Allah yang benar-benar sangat dekat waktu pelaksanaannya dengan kita adalah kematian. Bila kematian tiba, segala yang kita usahakan di masa hidup akan kita tinggalkan. Sang istri akan menjadi janda dan anak-anak akan menjadi yatim. Renungkanlah keadaan itu. Semoga ia menjadi jalan bagi kita untuk lebih bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Share:

Saturday, December 1, 2018

Sumber-sumber Ilmu

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Jadilah sumber-sumber ilmu dan lentera-lentera di malam hari, yang hatinya selalu baru meskipun pakaiannya telah usang. Kalian akan dikenal di langit dan akan diingat dibumi.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tahdzib Hilyatul Auliya’, 1/83.

Di dalam nasihatnya ini, Sayidina Ali bin Abu Thalib ra sebenarnya mengingatkan kepada kita akan keutamaan dan kemuliaan yang didapatkan oleh orang-orang yang berilmu.

Allah Swt sendiri telah berjanji di dalam al-Qur’an bahwa Dia akan melebihkan beberapa derajat orang-orang yang berilmu dibandingkan manusia lainnya. Sayidina Ali ra menggambarkan bahwa orang-orang yang menjadi sumber ilmu laksana lentera-lentera yang menerangi kegelapan malam. Ya, bagaimana tidak, dari orang-orang yang berilmu inilah manusia-manusia lainnya memperoleh pencerahan. Dengan ilmunya, mereka menunjukkan kepada yang lain mana yang hak dan mana yang batil, mana amal-amal yang memberikan pahala dan mana yang mengandung dosa, mana jalan menuju kepada Allah dan mana yang mengarah kepada setan. Singkat kata, orang-orang yang berilmu menjadi perantara turunnya petunjuk Allah ke dalam kalbu manusia.

Orang yang berilmu akan selalu memiliki hati yang baru, meskipun pakaian yang membungkus jasadnya telah usang. Setiap ia mengamalkan ilmunya, ilmu itu akan bertambah dan memperbaharui suasana hatinya dengan pemahaman yang lebih mendalam. Itulah yang terus menerus terjadi di dalam dirinya setiap ia mengamalkan ilmunya, hingga tiba saatnya ia kembali ke haribaan Allah Ta’ala.

Namun kematian yang membuatnya secara fisik hilang dari peredaran dunia ini takkan bisa melenyapkan keharuman namanya. Orang yang berilmu, sekali pun ia telah meninggal dunia, namun kebaikan-kebaikannya akan tetap dikenang orang. Namanya akan selalu hadir di tengah perbincangan umat manusia, sekali pun ia telah lama tiada. Sayidina Ali ra bahkan mengatakan bahwa orang yang berilmu akan dikenal di langit dan dikenang di bumi. Oleh karena itu, jadilah orang yang terkenal di langit dan di bumi dengan ilmu dan pengamalannya.
Share:

Thursday, November 29, 2018

Akal dan Kebodohan

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Tidak ada kekayaan yang lebih berguna daripada akal, dan tidak ada kemiskinan yang lebih berbahaya daripada kebodohan.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Aqdul Farid, 2/106.

Di zaman yang serba mengandalkan kepemilikan materi ini, menyebabkan sebagian besar orang memandang kekayaan itu adalah kepemilikan harta dalam jumlah yang banyak. Sedangkan kemiskinan dimengerti sebagai keadaan hidup dengan kepemilikan harta yang sangat sedikit. Betulkah demikian hakikat kekayaan dan kemiskinan?

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra melalui nasihatnya ini memberikan jawaban pada kita tentang persoalan ini. Menurut beliau, bukanlah kekayaan itu terletak pada kepemilikan harta dalam jumlah yang banyak. Kekayaan itu adalah akal yang sehat dan sempurna. Akal jauh lebih berharga daripada harta. Dengan akal yang sehat dan dapat berpikir dengan baik, harta bisa diperoleh. Namun harta yang banyak takkan mungkin bisa mengembalikan akal yang tidak sehat pada keadaan normal seperti sedia kala.

Harta yang banyak sering kali membuat manusia lupa memfungsikan akal sehatnya. Akibatnya ia lupa diri dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal sehatnya. Tatkala seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehatnya, maka ia terjerumus pada keadaan yang boleh jadi akan menempatkan dirinya pada posisi yang lebih hina daripada seekor hewan.

Tidak demikian dengan orang yang memiliki akal dan mampu memfungsikannya dengan baik. Sekali pun ia tidak memiliki harta dalam jumlah yang banyak, namun dengan akalnya ia bisa meraih hal-hal yang tidak bisa digapai oleh orang-orang yang hanya mengandalkan hartanya. Dengan akal ia bisa membedakan mana yang benar dan yang salah, sehingga ia tidak terjerumus pada kasus-kasus yang bisa menyulitkan dirinya sendiri.

Dengan akal ia tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik, sehingga ia pun diperlakukan orang dengan baik pula. Bahkan, dengan akal ia bisa meraih jumlah harta yang lebih banyak. Itulah sebabnya Sayidina Ali ra mengatakan bahwa akal merupakan kekayaan yang lebih berguna dibandingkan kekayaan dalam bentuk apa pun (harta).

Di sisi lain, kemiskinan yang sesungguhnya bukanlah karena sedikitnya jumlah harta yang dimiliki. Kemiskinan hakiki adalah kebodohan, dan Sayidina Ali ra mengatakan, bahwa kemiskinan dalam wujud kebodohan ini jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan harta. Kebodohan menyebabkan hidup seseorang menjadi terombang-ambing. Seorang yang bodoh takkan mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri. Ia akan mengarah ke mana pun ‘angin bertiup’. Kebodohan menyebabkannya tak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan untuk mencukupi kebutuhan dasar hidupnya. Akibatnya, ia akan melakukan apa pun demi memenuhi kebutuhan itu, bahkan sekali pun harus mengorbankan imannya.

Tentu saja ini sangat berbahaya karena ia bisa menyebabkan tercabutnya iman dari kalbu seorang manusia. Kebodohan hakikatnya adalah kemiskinan terhadap ilmu. Ilmu jauh lebih menyelamatkan daripada harta. Dengan kata lain, miskin ilmu jauh lebih berbahaya daripada miskin harta. Oleh karena itu, seseorang hakikatnya adalah kaya tatkala ia mampu mengoptimalkan penggunaan akalnya berdasarkan ilmu. Dan, seseorang hakikatnya adalah miskin tatkala akal yang dianugerahkan Allah padanya tak pernah disentuhkannya dengan ilmu.
Share:

Tuesday, November 27, 2018

Keutamaan Berusaha Sendiri

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Sesungguhnya orang yang hidup dari usaha orang lain, seperti orang yang menanam pohon di tanah orang lain.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Hilyatul Auliya’, 1/71.

Ini merupakan sebuah nasihat yang menggugah kita untuk berbuat. Manusia memang makhluk yang tak mungkin bisa hidup tanpa bantuan yang lain. Namun hal itu bukan berarti manusia harus menggantungkan hidupnya dari usaha orang lain. Seseorang harus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan tak boleh menjadi beban bagi yang lain.

Saat ini, ada banyak orang yang membanggakan sesuatu yang sebetulnya bukanlah hasil usahanya sendiri. Misalnya, seorang pemuda yang mengendari mobil mewah dan bergaya hidup mewah. Padahal semua yang dimilikinya itu tidak lebih dari usaha orangtuanya. Ia hanya menikmatinya tanpa pernah tahu bagaimana berusaha untuk memperolehnya. Generasi seperti itu bukanlah generasi yang baik. Tak ada apa pun yang bisa dibanggakan dari sosok manusia dengan tabiat seperti itu.

Orang yang berusaha dengan cucuran keringat meskipun hanya memperoleh hasil sedikit jauh lebih mulia di mata Allah daripada orang yang hidup berkecukupan namun bukan hasil usahanya sendiri. Sayidina Ali ra mengibaratkan orang yang hidup dengan bergantung pada usaha orang lain seperti seseorang yang menanam pohon di atas tanah milik orang lain. Apa yang Anda simpulkan dari perumpamaan itu? Ya, yang pasti ia tak memiliki hak apa pun atasnya, karena ia hanya memanfaatkan apa yang telah dihasilkan oleh orang lain.

Oleh karena itu, bergerak dan berbuatlah. Jangan menjadi manusia pemalas. Yang diwajibkan bagi kita adalah berusaha. Sedangkan hasilnya serahkan kepada Sang Pemegang Keputusan, yakni Allah Swt.
Share:

Wednesday, November 14, 2018

Hakikat Kebaikan

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Bukanlah suatu kebaikan banyaknya hartamu dan anakmu. Tapi kebaikan itu adalah bertambahnya amalanmu, bertambah besar kasih sayangmu, dan engkau bersegera dalam beribadah kepada Tuhanmu.

Jika engkau melakukan suatu kebaikan, maka bertahmidlah. Sedangkan jika engkau melakukan perbuatan buruk, maka beristighfarlah.

Sungguh tidak ada kebaikan di dunia kecuali bagi salah satu dari dua orang: orang yang melakukan suatu dosa, lalu ia menebusnya dengan bertaubat; atau orang yang bersegera melakukan kebaikan.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Az-Zuhdul Kabir, nomor 708 dan Al-Hilyah, 1/75.

Melalui nasihatnya ini, Sayidina Ali bin Abu Thalib ra menjelaskan kepada kita tentang hakikat kebaikan. Menurut beliau, kebaikan itu tidaklah terletak pada banyaknya harta dan anak yang kita miliki. Sebagian besar manusia berpandangan bahwa harta dan anak-anak yang banyak merupakan pertanda kebaikan hidup yang telah diraihnya. Ya, pendapat yang demikian itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan, namun juga bukanlah pendapat yang paling benar. 

Kebaikan yang sesungguhnya itu adalah ketika kita mampu meningkatkan amal kebaikan, rasa kasih sayang, dan ketekunan untuk selalu beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika Anda ingin mengetahui apakah hidup yang Anda jalani saat ini berada dalam kebaikan atau tidak, maka ketiga hal tersebut dapat dijadikan sebagai indikasinya. Jika hari-hari yang Anda lalui selalu terisi dengan peningkatan amal kebaikan, kasih sayang dan ketaatan kepada Allah, maka bersyukurlah pada-Nya, karena itu pertanda Anda berada dalam kebaikan. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, maka segeralah untuk menyadarinya, karena itu pertanda Anda sedang menempuh jalur yang menyimpang dari kebaikan.

Sayidina Ali ra menasihati kita agar bertahmid jika melakukan kebaikan dan beristighfar jika melakukan keburukan. Ketahuilah, sungguh manusia takkan mampu melakukan kebaikan sekecil apa pun kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk memuji Tuhan dengan bertahmid kepada-Nya jika kita melaksanakan suatu kebaikan. Di sisi lain, tidaklah seseorang itu melakukan suatu keburukan kecuali setan telah menggelincirkannya. Oleh karena itu, siapa saja yang mendapati dirinya berbuat keburukan hendaklah segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Tidaklah suatu perbuatan buruk itu kecuali selalu bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah ‘Azza wa Jalla.

Kebaikan di dunia ini, kata Sayidina Ali ra, selalu ada dalam diri dua orang manusia: orang yang bertaubat dari perbuatan dosanya dan orang yang menyegerakan dirinya untuk melakukan kebaikan. Sekarang mari kita bercermin pada diri sendiri, adakah kita termasuk dalam dua golongan manusia itu?
Share:

Wednesday, November 7, 2018

Curahkan Perhatianmu pada Diterimanya Amalan

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Curahkan perhatian kalian pada diterimanya amalan melebihi perhatian kalian untuk beramal. Sesungguhnya amalan yang dikerjakan dengan takwa tidaklah bernilai sedikit. Bagaimana mungkin dinilai sedikit sebuah amalan yang diterima?”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’, 1/81 dan Kanzul Ummal, 3/697.

Ungkapan Sayidina Ali bin Abu Thalib ra ini mengingatkan kita agar dalam beramal jangan hanya sekedar berdasar pada pelaksanaan saja, namun yang harus lebih diperhatikan adalah hal-hal yang bisa membuat amal itu diterima di sisi Allah Swt.

Ada banyak manusia yang melaksanakan suatu amal, namun sama sekali tak tercatat di sisi Allah. Betapa banyak informasi dalam hadits-hadits shahih yang kita dapatkan, misalnya dalam persoalan shalat, di mana shalat yang dilakukan oleh seseorang tidak dipandang sebagai perbuatan yang berpahala di sisi Tuhan. Bahkan, catatan shalatnya itu kelak akan dilemparkan Allah padanya tanpa dipandang sebagai sebuah amal saleh di sisi-Nya. Kalau shalat saja sebagai amal yang paling utama di dalam agama Islam ada yang tidak diterima oleh Allah, tentunya amalan-amalan lain selain shalat akan lebih banyak lagi jumlahnya yang tidak diterima Allah.

Nah, melalui nasihatnya ini, Sayidina Ali bin Abu Thalib ra mengajak kita agar memperhatikan segala hal yang bisa membuat amal-amal yang kita lakukan bisa diterima oleh Allah Ta’ala. Syarat utama agar amal kita diterima Allah adalah melaksanakannya berdasarkan ketakwaan kepada-Nya. Artinya, landasilah setiap amal yang kita lakukan dengan ketakwaan. Orang yang beramal atas dasar ketakwaannya kepada Allah akan memfokuskan segala amalnya hanya demi menggapai ridha Allah. Ia pun akan sangat khawatir jika amalnya itu tidak diterima Allah, sehingga ia akan iringi setiap amalnya dengan permohonan kepada Allah agar Allah bersedia menerimanya.

Amal-amal yang diterima oleh Allah inilah yang disebut sebagai amalan yang makbul. Tidaklah tepat jika dalam beramal yang kita perhatikan hanyalah persoalan sah atau tidaknya amal tersebut. Adalah penting untuk melaksanakan amal secara sah, namun jauh lebih penting dari itu adalah mengusahakan agar amal yang kita laksanakan itu makbul. Oleh karena itu, mulai hari ini perhatikanlah segala hal yang bisa membuat amal-amal kita makbul, dan salah satu syarat kemakbulan amal tersebut adalah dikerjakan atas dasar takwa kepada Allah Swt.
Share:

Tuesday, October 30, 2018

Cara Bergaul

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Pergaulilah manusia dengan lisan dan tubuh kalian, dan jauhilah mereka dengan hati dan perbuatan kalian. Sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan ganjaran dari apa yang ia perbuat. Dan pada hari kiamat nanti ia akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Az-Zuhdul Kabir, nomor 189.

Inilah cara bergaul dengan manusia yang dinasihatkan oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib ra kepada kita. Mempergauli manusia dengan lisan dan tubuh. Artinya, bergaullah dengan manusia dengan mengucapkan kata-kata yang baik dan sikap yang baik pula. Tidak disebut sebuah pergaulan itu baik jika orang-orang yang bergaul itu saling mengucapkan kata-kata buruk dan menyakitkan antara satu dengan lainnya. Kata-kata buruk yang diucapkan dan sikap buruk yang diperlihatkan merupakan pertanda buruknya akhlak. 

Oleh karena itu, menurut Sayidina Ali ra, bergaullah dengan lisan dan sikap yang baik. Cara bergaul yang dilandasi kemuliaan akhlak akan menghadirkan jalinan batin yang baik.

Sebaliknya, kata Sayidina Ali ra, jika hendak menjauhi manusia, jauhilah dengan hati dan perbuatan. Ketahuilah, yang biasa dijauhi itu adalah hal-hal yang tidak baik. Kita tidak mungkin bisa menjauh dari sesuatu yang tidak baik bila hati kita tidak menjauh darinya. Tindakan hati yang menjauh itu maknanya membencinya. 

Jika Anda membenci suatu perilaku yang buruk, maka Anda akan cenderung menjauh darinya. Perbuatan Anda pun akan jauh dari hal-hal yang dibenci oleh hati Anda itu. Itulah sebabnya Sayidina Ali ra menasihati kita kalau menjauhi sesuatu (tentu maknanya karena sesuatu itu buruk), maka jauhilah dengan hati. 

Pada hari kiamat kelak, seseorang akan dikumpulkan bersama apa yang ia cintai. Jika demikian adanya, sejak dari dunia ini kita harus menentukan dengan tepat apa sebaiknya yang layak untuk kita cintai. Kalau kita mencintai sesuatu yang baik, maka di hari kiamat nanti kita akan dikumpulkan dengan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya, jika yang kita cintai adalah sesuatu yang buruk, tentu saja di hari kiamat pun kita akan berkumpul bersama keburukan-keburukan. Nah, tentukan pilihan Anda mulai saat ini!
Share:

Monday, October 22, 2018

Menjadi Generasi Akhirat

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkhutbah di Kufah, yang di dalamnya ia berkata:

“Wahai manusia… sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Karena panjang angan-angan itu membuat kalian lupa pada akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu itu menghalangi kalian dari kebenaran.

Ketahuilah… sesungguhnya dunia terus berjalan menjauh, sedangkan akhirat datang mendekat. Masing-masing dari keduanya mempunyai generasi. Maka, jadilah generasi akhirat, dan jangan menjadi generasi dunia.

Sesungguhnya hari ini adalah saat beramal tanpa hisab, dan esok di akhirat adalah saat hisab tanpa ada waktu untuk beramal lagi.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’, 1/82 dan Az-Zuhdul Kabir nomor 463.

Hal pasti yang akan kita alami adalah meninggalkan dunia lalu berpindah ke negeri akhirat. Tidak ada seorang pun di antara manusia yang mampu menyimpang dari pastinya ketentuan Allah ini. 

Karena dunia akan ditinggalkan, kemudian berpindah ke alam akhirat, maka tentunya yang harus dipersiapkan adalah kehidupan di akhirat. Itulah sebabnya Sayidina Ali bin Abu Thalib ra berpesan kepada kita agar menjadi generasi akhirat, bukan generasi dunia. Menjadi generasi akhirat artinya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyongsong kehidupan akhirat, berbuat apa pun di atas dunia ini dalam kerangka menggapai kebahagiaan hidup akhirat.

Ketahuilah, setiap tarikan dan hembusan nafas yang saat ini berlangsung dalam kehidupan kita, hakikatnya adalah proses menjauhnya dunia dari kita dan mendekatnya akhirat kepada kita. Hari-hari yang kita lalui sesungguhnya semakin mendekatkan kita kepada akhir kehidupan di dunia, dan semakin mengantarkan kita ke depan gerbang kehidupan akhirat. Kalau demikian kenyataannya, bukankah lebih baik bagi kita menjadi generasi akhirat daripada generasi dunia? Pikirkanlah niscaya Anda akan memperoleh kebenaran tentang hal itu.
Share:

Friday, October 12, 2018

Tidak Mungkin Memperbaiki Orang Lain Jika Diri Sendiri Rusak

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

“Aku membawakan kepada kalian peraturan Umar, agar aku bisa memukul kalian dengannya, supaya kalian jera dari berbuat dosa. Namun kalian menolak. Hingga aku menggunakan bambu, namun kalian tidak jera juga. Dan aku tahu apa yang kalian inginkan, yaitu pedang. Sesungguhnya aku takkan bisa memperbaiki kalian dengan kerusakan yang ada pada diriku.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, 3/301.

Ada dua macam pesan yang tersirat dalam ucapan Sayidina Ali bin Abu Thalib ra ini:

1. Kepribadian yang tegas
Inilah kepribadian Sayidina Ali bin Abu Thalib ra. Beliau sesungguhnya adalah seorang hamba Allah yang memiliki hati yang sangat lembut, namun tetap tegas. Ia akan melakukan hal yang paling ‘kejam’ demi menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di tengah-tengah kaum Mukminin. Citra inilah yang kita dapatkan dari ungkapan Sayidina Ali ra di atas. Agar manusia jera berbuat dosa kepada Allah, Sayidina Ali ra bahkan rela untuk menghunus pedangnya.

2. Kesadaran untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain
Sayidina Ali ra telah melakukannya sendiri dan beliau menasihati kita agar melakukan hal yang sama. Tak mungkin bagi kita mengubah keburukan seseorang menjadi baik, sementara kita sendiri bergelimang dalam kubangan keburukan. Manusia hanya bisa diubah dengan ajakan, nasihat yang baik dan teladan yang nyata. Maka berusahalah terus menerus memperbaiki diri sembari mengajak orang lain untuk menjalani hidup secara lebih baik.
Share:

Monday, October 8, 2018

Ciri Kefakihan Seorang Hamba

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata: 

“Ketahuilah bahwa kefakihan itu adalah setiap kepahaman, (yaitu orang) yang tidak pernah putus asa dari rahmat Allah dan yang tidak pernah merasa aman dari azab-Nya, tidak pernah membuat mereka meremehkan maksiat kepada Allah, dan tidak menghalangi orang lain untuk mencintai al-Qur’an. Tidak ada gunanya ibadah tanpa ilmu tentangnya. Tidak ada gunanya ilmu tanpa pemahaman terhadapnya. Dan tidak ada gunanya bacaan tanpa mentadabburinya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’, 1/83 dan Shifatush Shafwah, 1/170, serta diriwayatkan juga oleh Ad-Darimi, nomor 297.

Ada banyak orang mengaku-ngaku sebagai seorang fakih atau berperilaku laksana seorang yang fakih, namun sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Berhati-hatilah, jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan yang seperti itu, karena pada akhirnya hanya akan memberikan kemudharatan bagi kita.

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra melalui ungkapan di atas menyebutkan kepada kita ciri-ciri seorang hamba Allah yang fakih:

·                   Tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Inilah ciri utama mereka. Apa pun kenyataan hidup yang dialaminya, jika dia seorang hamba yang fakih maka ia akan memandang semua itu sebagai bentuk curahan rahmat dari Allah Azza wa Jalla.

·                   Tidak pernah merasa aman dari azab-Nya. Seorang hamba Allah yang fakih senantiasa menyadari bahwa Allah memiliki azab yang pedih bagi hamba-hamba yang mendurhakai-Nya. Ia menyadari betul hal itu, sehingga setiap detik dari kehidupannya tak pernah ia rasakan aman dari azab Allah. Kesadaran itu membuatnya untuk selalu berhati-hati menjalani hidup, jangan sampai menyimpang dari aturan-aturan yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya.

·                   Tidak pernah meremehkan maksiat kepada Allah sekecil apa pun. Hamba Allah yang fakih selalu menghindari maksiat sekecil apa pun. Ia takkan pernah menganggap remeh suatu kemaksiatan. Sesungguhnya ia tidak melihat ukuran kemaksiatan itu, namun yang lebih diperhatikannya adalah kepada siapa kemaksiatan itu ia lakukan. Dengan kefakihannya ia merasa tidak layak baginya bermaksikat terhadap Allah yang menyayanginya, meski sekecil apa pun.

·                   Tidak menghalangi orang lain untuk mencintai al-Qur’an. Al-Qur’an berisikan petunjuk Allah. Tidak mungkin seseorang bisa berjalan di alur yang digariskan Allah tanpa membaca, memahami dan mengamalkan al-Qur’an. Seorang yang fakih takkan pernah menghalang-halangi orang lain mencintai al-Qur’an. Bahkan, ia akan membuka ruang seluas-luasnya bagi orang lain untuk mempelajari al-Qur’an dan mengamalkan isinya. Orang yang fakih akan selalu bersama dengan orang-orang yang mencintai al-Qur’an.

·                   Selalu beramal dengan landasan ilmu disertai pemahaman yang benar terhadapnya. Seorang yang fakih takkan pernah merasa puas dengan apa yang telah dipelajarinya. Ia akan terus belajar, karena hanya dengan cara itulah ia akan paham. Dengan landasan ilmu dan pemahaman yang baiklah suatu amal menjadi lebih bernilai di sisi Allah Ta’ala. 

·                   Selalu membaca al-Qur’an dan mentadabburinya.

Demikianlah yang disebutkan Sayidina Ali bin Abu Thalib ra seputar ciri hamba-hamba Allah yang fakih. Sekarang, lihatlah diri kita. Apakah kita sudah memiliki ciri-ciri tersebut? Kalau belum, pantaskah kita memandang diri kita sebagai seorang yang fakih?
Share:

Thursday, October 4, 2018

Doa dan Harapan

Di antara munajat pengharapan yang pernah diucapkan Sayidina Ali bin Abu Thalib ra adalah:

“Ya Allah… sesungguhnya dosa-dosaku tidak berpengaruh bagi-Mu, dan rahmat-Mu padaku tidak mengurangi (keagungan)-Mu. Maka ampunilah apa yang tidak berpengaruh bagi-Mu, dan berilah aku apa yang tidak mengurangi (keagungan)-Mu.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, 3/274.

Inilah doa pengharapan dari seorang hamba yang telah memperoleh jaminan Allah untuk masuk ke dalam surga. Adakah kita pernah bermunajat dan mengharap kepada Allah sebagaimana yang dilakukan oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib ra? Melalui munajatnya ini tersirat makna betapa Sayidina Ali ra adalah seorang hamba Allah yang sangat mendalam pengharapannya kepada Tuhan. Ia mengharapkan ampunan dosa dari Allah dan juga mengharapkan curahan rahmat dari-Nya.

Ketahuilah, sebesar apa pun dosa yang dilakukan manusia terhadap Allah niscaya itu takkan mempengaruhi-Nya. Di lain hal, sebesar apa pun rahmat yang dicurahkan Allah kepada hamba-Nya, sama sekali hal itu takkan mengurangi keagungan-Nya. Itulah yang dipahami oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib ra. 

Di dalam kalimat tersebut tersirat pelajaran bagi kita agar memohon kepada Allah apa yang tidak mempengaruhi-Nya. Artinya, mohonlah ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. Dia adalah Dzat yang takkan merasa berat untuk memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang memohon hal itu kepada-Nya. Demikian halnya terhadap rahmat Allah. Mohonlah kepada-Nya curahan rahmat. Sebesar apa pun curahan rahmat yang kita harapkan, Dia akan mampu memberikannya, dan tak sedikit pun hal itu akan mengurangi keagungan-Nya. 

Mulai hari ini taruhlah harapan kepada Allah dan selalulah berharap hanya kepada-Nya, niscaya Anda akan temukan diri Anda sebagai orang yang tak pernah kecewa. Yakinlah!
Share:

Friday, September 28, 2018

Seandainya Penghuni Kubur Bisa Bicara

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra pernah memasuki sebuah kompleks pemakaman, lalu ia berkata:

“Wahai penghuni kubur, wahai penghuni tempat yang penuh ujian, wahai penghuni tempat yang sunyi, berita apa yang kalian miliki? Sesungguhnya kabar yang kami punya adalah: tempat-tempat telah dihuni, harta-harta telah dibagi, istri-istri telah dinikahi. Inilah kabar dari kami. Lalu, apa kabar dari kalian?”

Kesunyian menyelinap saat itu, ia kemudian melanjutkan ucapannya:

 
“Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya! Andai mereka diizinkan untuk berbicara, niscaya mereka akan mengatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, 3/155 dan Kanzul Ummal, 3/697.

Seandainya penghuni kubur dapat berbicara, tentu mereka akan beritakan kepada kita apa yang mereka alami di sana dan akan sampaikan kepada kita apa-apa yang harus kita lakukan di dunia sehingga saat masuk ke alam kubur kita tidak mengalami siksa dan kegelapannya. Namun sayang, mereka tidak bisa berbicara dan tidak diizinkan Allah memberikan berita dari alam barzah secara langsung kepada kita.

Sebaliknya, dari dunia ini kita dapat kabarkan kepada mereka apa yang terjadi dengan keluarga dan harta benda yang ditinggalkannya. Kabar yang disampaikan Sayidina Ali ra kepada para penghuni kubur pasti juga akan kita alami sendiri. Saat kematian telah menjumpai kita, maka rela ataupun terpaksa, kita akan meninggalkan seluruh yang kita cintai. Kita akan meninggalkan istri, suami, anak dan seluruh harta benda yang sepanjang hayat kita usahakan untuk mengumpulkannya. Tak sedikit pun di antara mereka yang akan menyertai kita. Yang begitu setia pada kita hingga kita berada di hadapan Allah Yang Maha Adil hanyalah amal, tiada yang lain.

Sayidina Ali ra menjelaskan, seandainya para penghuni kubur diberi kesempatan oleh Allah untuk menyampaikan kabar kepada kita, niscaya pesan singkat yang akan mereka sampaikan adalah bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. Maknanya, tak ada apa pun dari kehidupan dunia ini yang akan bermanfaat bagi seseorang yang telah berpindah ke alam kubur selain ketakwaan yang dipersembahkannya kepada Allah saat kehidupan di atas dunia. Ini merupakan suatu kepastian, karena Allah sendiri telah memberitakannya di dalam al-Qur’an. 

Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Kelak kita akan merasakan betapa besar manfaat yang kita peroleh karena ketakwaan itu, dan orang-orang yang mengabaikannya kelak akan menyesal dengan sikap yang telah mereka pilih itu. Semoga Allah menguatkan kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya sepanjang sisa usia yang masih ada.
Share:

Tuesday, September 25, 2018

Salam Saat Melewati Makam

Sayidina Ali bin Abu Thalib ra penah melewati sebuah kompleks pemakaman, lalu ia berkata:

“Assalamu’alaikum wahai penghuni tempat yang sunyi senyap, tempat yang tandus, dari golongan mukmin laki-laki dan perempuan, dan muslim laki-laki dan perempuan. Kalian telah mendahului kami, dan kami akan menyusul kalian, serta sebentar lagi kami akan bertemu dengan kalian. Ya Allah… ampunilah dosa-dosa kami dan mereka. Dan hapuskanlah dosa kami dan mereka. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berkumpul, baik yang hidup maupun yang mati. Dan segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kalian, dan di atasnya kalian akan dikumpulkan, serta darinya kalian akan dikumpulkan kembali. Dan beruntunglah orang yang mengingat akhirat (tempat kembali), dan mempersiapkan diri untuk hari perhitungan, serta merasa cukup dengan rezki yang sedikit.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, 3/148.

Di sini Sayidina Ali bin Abu Thalib ra memberi nasihat kepada kita agar senantiasa mengucap salam saat melewati kompleks pemakaman. Hakikat salam yang kita sampaikan adalah doa terhadap para arwah saudara muslim yang telah mendahului kita menghadap Allah Ta’ala dengan membawa iman. 

Kalimat doa yang disampaikan oleh Sayidina Ali ra mengingatkan kita kepada satu tempat yang mau tidak mau, siap ataupun tidak, jika tiba saatnya pasti kita akan menempatinya. Ya, makam atau kuburan, itulah namanya. Makam merupakan tempat yang sunyi-senyap, tandus, dan gelap. Siapa pun yang hidup di atas bumi ini pasti akan tiba saat baginya untuk berpindah dan tinggal di tempat itu. Itulah yang sangat disadari oleh Sayidina Ali ra, sehingga beliau mengatakan dalam doanya bahwa sebentar lagi kami akan menyusul kalian dan berjumpa dengan kalian.

Ini adalah sebuah kepastian. Orang-orang yang saat ini telah mendahului kita menempati alam kubur segera akan kita susul dan bertemu dengan mereka. Maka sejak dari dunia ini adalah sikap yang paling baik untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk diri kita sendiri dan para arwah saudara kita yang telah berpulang keharibaan-Nya. Sikap baik semacam itu insyaallah akan mendapat balasan dari Allah, sehingga orang-orang yang kelak kita tinggalkan di dunia ini juga akan secara ikhlas mendoakan kita yang telah berpindah ke alam barzah.

Nasihat lainnya yang bisa dipetik dari kalimat Sayidina Ali bin Abu Thalib ra adalah agar kita selalu ingat akan kematian (dzikrul maut). Mengingat mati bukan hanya sekedar menyakini bahwa kita pasti akan mati. Namun, lebih jauh dari itu adalah dengan mempersiapkan diri menyongsong tibanya saat kematian itu yang menyebabkan kita harus dipindahkan dari atas bumi ini ke dalam perut bumi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang selamat kelak di alam kubur. Aamiin.
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online